Cerita Sex Perasaan, Bagian Tiga

Cerita Sex Perasaan, Bagian Tigaby adminon.Cerita Sex Perasaan, Bagian TigaEnam – Part 7 BAB II Perasaan, Bagian Tiga Hari Sabtu, beberapa minggu setelah pertemuan Rian-Revi dan Bima-Yuni di bioskop, Ima mentraktir para sahabatnya makan. Hari ini ulang tahunnya ke 18. Udin membawa Icha, dan menyatakan kalo mereka udah jadian lagi. Namun yang sempat membuat suasana canggung adalah Bima yang membawa Yuni. Karena semua tahu, […]

tumblr_nvrkkaYBfc1uhenvdo3_250 tumblr_nvrkkaYBfc1uhenvdo4_250 tumblr_nvrkkaYBfc1uhenvdo5_250Enam – Part 7

BAB II
Perasaan, Bagian Tiga

Hari Sabtu, beberapa minggu setelah pertemuan Rian-Revi dan Bima-Yuni di bioskop, Ima mentraktir para sahabatnya makan. Hari ini ulang tahunnya ke 18. Udin membawa Icha, dan menyatakan kalo mereka udah jadian lagi. Namun yang sempat membuat suasana canggung adalah Bima yang membawa Yuni. Karena semua tahu, Yuni masih berstatus pacarnya Satrio.

Namun suasana canggung itu tidak berlangsung lama, namun tetap saja, Yuni merubah suasana. Bahkan Rian pun beberapa kali mencuri pandang pada paha Yuni yang kebetuan saat itu menggunakan gaun dengan rok di atas lutut. Putih dan bersih.
Udin pun walaupun ada Icha, masih mencuri-curi pandang juga. Setiap ada kesempatan, pasti di ambil. Hal ini diketahui oleh Revi. Berkali-kali dia melihat ujung mata Rian melirik kaki Yuni yang panjang dan seksi. Namun dia diam saja. Bingung harus bertindak seperti apa.

Saya ke aer dulu. Bima berkata pada suatu waktu.
Bareng Bim. Rian mengajak. Di toilet Rian memberanikan diri bertanya ke Bima Bim, kamu sahabat saya, saya gak mau ada apa-apa ama kamu dan Satrio. Maksud saya, siapa sih yang gak seneng ama Yuni. Cantik, seksi, putih, pokokna mah, wah! Tapi status dia masih ama Satrio. Kamu yakin?
Bima hanya tertawa kecil, lalu menjawab Ya, mau gimana lagi Yan, untuk saat ini kami nempel kayak perangko.
Gelo maneh Bim. Cari masalah. Tapi, ya, kalo ada apa-apa saya ada buat kamu. Terus maksudna nempel itu apa? Udah ah uh ah uh kalian?
Jiah, kayak gak tau Bima aja Yan. Udahlah, hahaha. Jawab Bima dengan nada bangga.
Anjrit, sirik uy.
Lah, kamu juga yang gak baleg. Si Ifa yang cantiknya bukan maen itu kenapa kamu jauhin. Si Atika juga, perempuan cantik gitu dengan body aduhai, walopun pake kerudung juga, tetep cakep, kenapa kamu gak mau?
Belum mau Bim. Bukan gak mau. Ngomong-ngomong, udah diapain aja si Yuni?
Hahahaha, mau tau? Tar saya ceritain.

=======================

Huft, cape mas, udah dulu ah.
Ya udah Vi, gimana tuan putri ajaaaaa.
Sore itu kembali Revi dan Gio belajar bersama. Revi bener-bener mengejar ketinggalannya di Fisika. Supaya lulus UN ujarnya.
Eh Vi, sori nih nanya, kenapa kamu masih jomblo, kamu cantik, baik, tapi ko sendiri?
Revi terdiam, tapi akhirnya menjawab Gak ah mas, sakit hati ama yang kemaren juga. Tar aja lagi. Nyantey.
Dasar, emang sakit hati kenapa? Gio bertanya lebih jauh.
Ya gitu deh, dia ternyata udah tunangan. Entah kenapa, Revi ingin menjawab. Beberapa waktu berdua dengan Gio membuat Revi nyaman. Gio enak untuk diajak cerita, tidak menghakimi, dan tidak pernah sekalipun melihat dari sisi negatif.
Ya, bodo dia. Perempuan cantik kayak kamu disia-siain.
Emang Revi cantik mas? Cantik mana ama Ima?
Ya gak bisa dibandingin gitu atuh Vi, ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi kamu pasti kalo lagi, ehm, gitu, Gio menekankan pada kata gitu pasti berisik. Ya?
Ih, sok tau. Hehehe. Tapi bener sih, pernah Revi ampe di tutup mulutnya gara-gara berisik. Jelas Revi.
Tar, ditutup mulutnya? Emang lagi diapain?
Hm, jangan bilang-bilang ya? Itu, di emut.
Apanya? Hahahahaha.
Idih, itunya. Emang mas suka ngemut apanya Ima?
Baru dada ama putingnya si Vi.
Jiah, baru, emang mau ngemut apa lagi mas? Dasar.
Tapi, kamu udah pernah oral? Gio kembali bertanya.
Hm, udah sih, terakhir gitu, Revi ngoral dia. Ampe disuruh bersihin mani nya dia malah. Tapi udah itu tunangan dia dateng.
Hmmm. Gio merenung, entah apa yang ada dipikirannya.
Mas udah pernah di oral Ima?
Belum, baru dikocokin doang. Enak, hahahaha.
Dasar cowok, udah ah, ganti topik.
Haha, iya, tapi ngomong-ngomong, suka ngerasa pengen lagi ga Vi?
Hm, gimana ya? Hehehehe, masih mas.

====================================

Serius Ma? Bima udah gituan ama Yuni? Revi mengklarifikasi ucapan Ima sebelumnya.
Beneran, kata Yuni. Dia Ima tanya waktu itu, Ima gak mau Bima dan Yuni jadi susah. Kamu kan tau, Ima ama Yuni sebangku di kelas X. Terus dia cerita, kalo sebenernya Yuni suka ama Bima. Dan mereka udah beberapa kali ML. Tapi Yuni juga masih ada rasa ama Satrio. Jelas Ima.
Gak bisa gitu dong. Itu kan sama aja maenin Bima. Ko gitu si Yuni. Protes Revi bersemangat. Padahal, sebagian kecil dari hatinya luka. Revi sadar akan hal ini. Cemburu dan iri. Cemburu pada Yuni dan iri dengan apa yang dilakukan Bima pada Yuni.
Gak juga. Soalnya dilakukan tahu sama tahu dan suka sama suka, tanpa ikatan. Mereka bisa berhenti kapanpun mereka mau, kata Yuni. Tapi, yaaaa, gitu deh. Apalagi si Bima, kaya kucing nemu ikan. Pasti didahar, kayak gak tau sahabat kita satu itu Vi. Makhluk nekad dia mah. Ima menjelaskan. Pokoknya, kita gak usah ngehakimin mereka. Yang penting, sebagai sahabat kita harus selalu ada.

Perbincangan di waktu istirahat tadi membuat Revi diam selama sisa jam pelajaran. Menjadi tidak fokus malah, berkali-kali dia ditegur guru pada jam-jam itu. Revi kembali melikah bangku kosong Bima dengan pandangan kosong. Ini tidak luput dari perhatian Rian.
Revi, kamu bener ada hati buat Bima ya? Pikir Rian, dan terlintas dipikirannya bahwa kedekatan Rian dengan Revi selama ini sebatas sahabat bahkan hubungan adik dan kaka. Revi sudah melihatnya seperti itu. Rian menarik nafas panjang dan melepaskannya. Sampai Udin di sebelehnya berkomentar, Ngantuk maneh Yan? Ke aer gih, sambil saya nitip gorengan.
Maneh waeee. Jenuh aja Din, kalo kamu mau gorengan, sana, saya nitip minum.
Jiah, teu jadi ah. Keluh Udin.

================

Beberapa hari ke depan semua berjalan sama seperti biasa, hanya saja ditambah Revi yang sedikit out of focus dan Rian yang berbeda, Rian masih memuja Revi. Namun kini dia mau ngobrol berlama-lama dengan Ifa, Atika dan siswi lain yang mendekatinya.
Terutama Atika. Ifa memang cantik, sangat cantik malah. Namun entah kenapa Rian lebih senang dengan siswi berjilbab. Menurutnya terkesan lebih seksi dan menggairahkan.

Hal ini pun tak luput dari mata Revi. Pernah suatu waktu, Revi melihat Rian sedang tertawa lepas bersama Atika di pojok sekolah dekat parkir motor. Revi cemburu, ya, dia merasakan cemburu. Namun tidak seperti apa yang Revi rasa ketika mendengar hubungan Bima dengan Yuni. Tanpa rasa iri, namun rasa cemburunya lebih besar sebetulnya, hanya Revi belum sadar.

========================
Hari berganti hari dan minggu pun berganti, tidak terasa ini minggu terakhir Gio mengajar Revi. Tiga minggu lagi Ujian Nasional di mulai. Perkembangan Revi sangat baik menurut Gio, walaupun akhir-akhir ini Revi sedikit malas dalam belajar. Dan hal ini yang membuat Gio menawarkan solusi bagi Revi.
Minggu besok ada kegiatan ga Vi? Tanya Gio di akhir sesi belajar itu.
Gak ada, kenapa Mas?
Tangkuban perahu yu? Kita Refreshing aja. Mau?
Hmmm, gimana ya? Ima gimana?
Gak apa-apa. Ya, tapi dia gak perlu tahu juga. Nyantey aja. Gak bakalan terjadi hal-hal yang amat sangat saya inginkan ko. Tengan Gio menjawab. Kalimat terakhir sebetulnya sangat dia harapkan ada. Lumayan, Revi, siswi berjilbab yang cantik. Memang kalah cantik dari Ima, tapi setiap Gio berduaan dengan Revi, pandangannya selalu mencuri kesempatan untuk melihat buah dada Revi yang membusung kencang. Bulat.
Hmm, liat entar deh ya. Kalo gak ada kegiatan apa-apa.
OK.

====================================
Rian memandangi layar memandangi layar HP nya, dia memandang chat window antara dia dengan Revi. Sudah beberapa hari Rian ingin menghubungi Revi, dan ngobrol lagi sampai malam, namun rupanya dia masih belum berani. Alih-alih mengawali percakapan, dia membuka beberapa foto Revi yang dia miliki. Menciumnya, kemudian melakukan hal yang biasa dia lakukan sambil melihat foto Revi, onani.

====================================
Bima memandang keluar jendela kamarnya. Dia lebih menyukai perempuan berambut panjang. Apalagi mereka yang dengan tidak segan mempertontonkan keindahan tubuh mereka, putihnya paha mereka atau indahnya leher mereka. Namun tadi, ketika dia melihat Rian bersama Atika jalan bareng di toko buku, dia menyadari sesuatu, jilbab atau tidak, mereka tetap cantik dan seksi. Dan entah kenapa, tiba-tiba adiknya naik, hanya memikirkan Atika dan membayangkannya. Sial. Gerutu Bima dalam hati, dan dia mulai memikirkan Ima dan Revi, sahabatnya yang cantik. Terutama Ima, karena Bima memang menyukai perempuan dengan kulit putih, dan Ima memang sangat putih dan mulus.
Tidak kuat, Bima langsung lari ke kamar mandi.

====================================

Udin melihat foto bareng dia dengan Icha. Mereka tadi sore iseng berfoto di booth foto. Icha. Gumannya lirih, dulu dia sangat mencintainya, kini pun masih, walaupun tidak dengan sangat. Dia mengelus foto itu. Icha memang cantik. Sawo matang, eksotis, bodi yang aduhai. Tapi ada yang kurang, ya, mantan Udin. Mantannyaterakhir bukan perempuan tomboy seperti Icha ataupun mantan-mantan dia yang lain, tapi ada sesuatu yang tidak bisa dia gambarkan. Mungkin hanya sebuah pembenaran keadaan, dia laki-laki dan menyukai perempuan, titik. Bukan perempuan tomboy.

====================================

Ima melihat dada kanannya di cermin. Melihat cupangan baru yang tadi Gio buat. Tersenyum. Entah kenapa dia suka dilakukan keras, atau lebih tepatnya kasar ketika melakukannya dengan Gio. Dan dia menyentuh buah dadanya itu, meremasnya. Kencang, masih kencang. Pikirnya, dia sedikit khawatir, karena remasan tangan Gio di buah dadanya itu seringkali keras, belum lagi sedotannya.

Kemudian diamenyibakan rambutnya, sebuah tanda kecil juga ada di lehernya sebelah kiri. Kembali dia tersenyum, lalu berdiri, mematikan lampu kemudian berbaring di tempat tidur. Ima tidak langsung tidur, melainkan tangannya turun, membelai kemaluannya. Tadi Gio memainkan tangan dan jarinya disana, setelah satu tahun pacaran, baru tadi kemaluannya disentuh langsung oleh Gio. Basah, geli tapi nikmat. Dan Ima tahu ini salah, namun dia berharap, pada pertemuan lain kali, dia menginginkan Gio bertindak lebih.

====================================

Cantik. Pikir Revi ketika melihat pantulan wajahnya di cermin. Melihat alisnya yang lurus den lumayan tebal. Hidungnya yang bagus dan mancung, dan bibirnya yang memang indah. Bibir itu sudah dipuji oleh banyak orang, diantaranya Gio dan Rian, ya, bahkan Rian terlalu sering memuji bibirnya. Bima? Belum pikir Revi, Bima belum pernah memujinya.

Menguap, Revi kemudian berjalan menuju tempat tidur. Huft, harus tidur nyenyak. Besok mau ke Tangkuban.
Memejamkan mata namun tak lama kemudian dia kembali membuka matanya. Mas Gio. Rupanya ketika menutup mata tadi, Revi melihat bayangan Gio, laki-laki yang selama ini menjadi kekasih Ima, namun baru dia sadari kalo Gio penuh perhatian dan baik, dan diapun menyadari, kalo sebenarnya Gio sering memperhatikan dia. Tapi Revi membuang jauh-jauh pikiran itu. Gio punya Ima. Kemudian Revi tertidur.

====================================

Gusti belum memejamkan mata. Di sampingnya Lidya tertidur pulas tanpa pakaian. Tangannya mengelus rambut Lidya. Permainan tadi benar-benar dahsyat, dia sampai keluar 5 kali. Lidya sendiri entah berapa kali.
Dia mencintai perempuan satu ini. Walaupun masih belum pernah mengucapkannya. Namun dia yakin, jika ini adalah cinta. Karena dia tidak peduli kenyataan bahwa Lidya 2 tahun lebih tua dan bukan perawan lagi. Gusti tidak pernah bertanya siapa yang mengambil keperawanannya, dia selalu beralasan, nanti juga Lidya bilang kalo sudah waktunya.

Tangan kanan Gusti perlahan meraih buah dada Lidya, meremasnya. Hmmmmmm…. Lidya mendesah, Gusti tersenyum, sadar bahwa adiknya mulai bangun. Dia melihat jam, pukul 11.30. Dia belum bisa tidur. Baru kali ini dia menginap di kamar Lidya. Masih belum terasa kerasan. Gusti memejamkan matanya berusaha tidur, namun di kepalanya kembali terulang adegan-adegan tadi, adegan gila yang mereka lakukan ………

——bersambung——- ->

Author: 

Related Posts