Cerita Sex PREMAN SEKOLAH PUJAAN HATI

Cerita Sex PREMAN SEKOLAH PUJAAN HATIby adminon.Cerita Sex PREMAN SEKOLAH PUJAAN HATI PREMAN SEKOLAH PUJAAN HATI abc024.jpg Sudah seminggu ini aku tidak diganggu oleh para pembantuku. Yah, hal ini dikarenakan aku sedang menstruasi. Ternyata para pembantuku ini bukan seperti yang diceritakan beberapa teman-temanku. beberapa orang temanku yang juga seperti diriku ini, pernah bermain gila dengan para pembantunya akhirnya terjerumus menjadi budak seks pembantu-pembantunya. Berbeda denganku, para pembantuku […]


tumblr_nijac0rHuI1tttj14o2_400tumblr_nijac0rHuI1tttj14o1_400
 tumblr_nijac0rHuI1tttj14o3_400PREMAN SEKOLAH PUJAAN HATI

abc024.jpg

Sudah seminggu ini aku tidak diganggu oleh para pembantuku. Yah, hal ini dikarenakan aku sedang menstruasi. Ternyata para pembantuku ini bukan seperti yang diceritakan beberapa teman-temanku. beberapa orang temanku yang juga seperti diriku ini, pernah bermain gila dengan para pembantunya akhirnya terjerumus menjadi budak seks pembantu-pembantunya. Berbeda denganku, para pembantuku ini sangat sopan menanyakan jika mereka boleh diizinkan untuk mencicipi tubuhku lagi.

Pagi ini seperti biasa setelah mandi dan bersiap, aku turun ke meja makan untuk menyantap hidangan yang sudah dibuatkan oleh Rizal. dan seperti biasa pula, para pembantuku ini sudah siap sarapan bersama denganku.

Suasana sangat ceria saat menyantap makan pagi ini. memang berbeda dari biasanya, kalo dulu kami makan sambil bercerita mengenai sekolah, hobi, dan yang lainnya, sekarang cerita-cerita itu sedikit dibumbui hal-hal erotis. Aku sendiri menanggapinya dengan santai. Sesekali aku ingatkan mereka bahwa walaupun mereka boleh bermain gila denganku, aku tetaplah majikannya yang harus mereka hormati, dan mereka sangat menghargai itu. jadi pelecehan-pelecehan seksual seperti tiba-tiba meremas susuku atau mencium bibirku tidak pernah terjadi. hanya beberapa kali mereka memeluk tubuh dan menciumku, itupun dengan izin dariku. aku senang seperti ini.

Aku juga kini memperbolehkan mereka untuk menonton TV dan bermain game console di dalam rumah asalkan pekerjaan mereka semua selesai. mungkin perlu diketahui, aku memiliki beberapa game console seperti PS 4, Nitendo Wii, dan X-Box, disamping DVD Player tentunya. setelah kami menyelesaikan makan pagi, seperti biasa, Dodi mengantarkan aku dan Ika (Sulikah, red) ke sekolah masing-masing.

Selama Perjalanan aku memikirkan hal yang lebih gila dari kemarin. dalam hatiku mulai menggebu-gebu untuk mencoba bermain gila dengan orang lain. Namun siapa yang bisa aku ajak ya.. ini yang masih menjadi pemikiranku selama perjalanan ini. beberapa kilometer sebelum sampai ke sekolahku aku teringat akan beberapa teman-temanku bagai preman yang minggu lalu menggoda aku.Terbesit pikiran bagaimana ya jika bermain dengan mereka, dengan anak seumuranku. Perlahan-lahan aku mulai tersenyum mendapatkan ide gila.

“Dod, nanti siang ga usah dijemput ya, aku pulang sama temenku,” Kataku
“Siap non. asyik, aku bisa main PES dong sama si Rizal, dia jadi ga perlu masak buat non makan siang kan,” Balasnya.

***

Seperti yang sudah-sudah, pelajaran ini begitu membosankan, aku mengikutinya dengan mengantuk hingga bel panjang tanda berakhirnya pelajaran ini dibunyikan. betapa bahagianya mendengar bunyi bel tersebut. Bahagia bukan hanya jam pelajaran selesai, namun bahagia juga karena aku akan menjalankan rencanaku.

Sebelum keluar dari lingkungan sekolah menuju parkiran, aku sengaja membeli teh botol di kantin sekolah sambil memikirkan matang-matang rencana ini. jangan sampai aku terlihat murahan di depan teman-temanku itu. Setelah rencana itu matang, aku berjalan santai menuju pohon temat anak-anak nongkrong dan tempat aku menunggu Dodi minggu lalu.

“Eh, ada Lily, si makhluk cantik duduk di sini lagi rupanya,” Vincent mulai genit
“Iya nih, lagi nunggu supir ya?” Balas Charles
“mmm,” aku hanya menggumam seolah tidak menanggapi mereka

Duduk beberapa menit sambil mengutak atik handphone, aku pura-pura menelepon Dodi, supirku sepeti biasa, hanya saja, karena aku sudah peringatkan supaya tidak menjemput, jadi ga mungkin dia jemput aku kan? hihihi..

“Halo, Dod.. kok lama sekali jemputnya?” celotehku berpura-pura. “oh.. oke deh aku nanti naik taksi.”

Aku menutup teleponku dan seperti yang sudah aku duga sebelumnya, teman-temanku yang sebenernya aku hanya tau nama dari label nama dibajunya itu langsung bergantian menawari aku pulang.

“Li, udah pulang bareng kita-kita aja, ntar kita aja jalan-jalan deh pokoknya,” Charles mulai terlihat menggoda diriku.
“Ah, pergi sama kalian sih aku ga akan dipulangin yang ada malah diculik,” Jawabku sekenanya.
“Yee.. kalo kamunya mau diculik sih kita asik-asik aja, ya ga,” Jawab si Charles.
“Iya Li, udah bareng kita-kita aja, abis ini kita mau ke mall mau makan, nonton, trus kita anter pulang deh,” Vincent mulai membantu Charles.

Rasanya, umpanku ini udah mulai mengena. mereka mulai antusias, Cuma aku belum tau aja apa yang akan terjadi dengan diriku jika aku ikut dengan mereka. lagian mereka kan anggota Gank Motor Excalibur yang cukup terkenal di kotaku, terkenal karena suka tawuran dengan Gank motor lainnya sih. makanya aku agak seram juga sebenernya ikut dengan mereka. Tapi rasa penasaranku ini membuat aku mencoba mengangguk mengiyakan ajakan mereka.

“Oke deh, aku ikut kalian soalnya aku juga belum nonton film itu,” Balasku. “Awas macem-macem, abis nonton, makan anterin aku pulang ya?”
“Beres dah. sama kita-kita sih kamu pasti aman, siapa yang berani gangguin kamu,” Vincent mulai berkelakar.

Aku diberikan jaket kulit khas gank motor Excalibur sebelum akhirnya aku ikut naik motor CBR 250cc yang ditumpangi oleh Charles. selama perjalanan, aku hanya bisa memeluk erat Charles. Mual gila dia nyetir motor ngebut banget. bener-bener raja jalanan dia, sesampainya di mall aku hampir muntah gara-gara kencangnya motor yang dia kendarai

“Gila km mau bunuh aku ya, mual tau.. hoekk,” aku memegangi perutku.
“Huahaha, si cantik belum pernah naik motor sih,” Vincent berkelakar.

***

Kami berjalan menuju foodcourt, ternyata setiap siang anggota gank motor berkumpul di sini. aku dikenalkan oleh Charles yang ternyata aku ketahui dia adalah pimpinan gank tersebut.

Setelah diperkenalkan, aku baru tahu ternyata anggota gank Excalibur tidak seseram yang diberitakan media tentang gank motor.

“hahaha.. beda lah, kalo yang diberitakan di TV itu kan gank motor anak-anak ababil,” Anthony menjawab kebingunganku.

Yap, di foodcourt tersebut kami bertemu dengan dua kawan lainnya. Charles, seperti yang udah aku bilang dia adalah pemimpin Gank Excalibur, tingginya 185cm cukup tinggi juga dibanding aku, orangnya ganteng dan berbadan atletis, karena itu tidak jarang cewek-cewek di sekolahku tergila-gila dengan Charles.

Vincent bertubuh kurus dan tidak terlalu tinggi, untuk wajah tidak terlalu ganteng namun potongan rambutnya modis abis. Vincent dan Charles adalah anak kelas 2 SMA, berbeda dengan aku yang masih kelas 1 SMA, tapi jangan salah loh, umurku masih lebih tua dari mereka yang rata-rata masih berusia 15-16 tahun.

Ada pula Anthony, berbadan besar dan cukup tinggi juga, namun dia tidak satu sekolah dengan kita begitu pula Jeffry, berbadan kecil namun atletis. setelah bercerita panjang lebar selagi menyantap makanan, aku baru mengetahui bahwa mereka cukup enak untuk diajak berteman.

***

Setelah makan siang ini selesai terlihat waktu film yang aku nantikan akan segera di mulai. Aku dan yang lain memasuki gedung bioskop yang tidak terlalu ramai, selain masih siang, hari ini juga hari kerja, Anthony yang sudah membelikan tiket lebih dulu menyuruh aku duduk di tengah.

Posisi duduk kami adalah paling atas, sehingga kami dapat menonton tanpa penghalang kepala orang. jengkel banget kalau waktu nonton ada kepala yang menghalangi. tempat ini adalah tempat kesukaanku.

Sambil tangan kanan memegang popcorn dan tangan kiri memegang minuman.. gila amat ya aku, hihihi.. aku melihat dengan serius film yang sedang diputar ini, saking seriusnya aku sampai tidak sadar kalau Vincent yang ada di kananku dan Charles yang ada di kiriku mulai memegang susuku yang masih tertutup seragam. Oh ini toh rencana mereka, dia buat aku duduk ditengah supaya bisa digrepe-grepe. sialan.

Ternyata mereka tidak hanya memegang susuku, tangan Charles mulai nakal dengan masuk ke dalam rokku. akibat rabaan-rabaan pada susuku ini, otomatis aku terangsang sedikit dan itu menyebabkan celana dalamku agak basah sedikit, parahnya hal itu diketahui oleh Charles yang tangannya sedang berada di dalam rokku.

“Aduh Les, yang bener dong,” Kataku sambil menepis tangannya.
“Tenang aja pokoknya kamu suka deh,” Balasnya.

Charles memalingkan mukaku melihatnya dan dia mencium bibirku! sontak saja aku kaget. gila banget dia berani menciumku di muka umum. Vincent yang mengetahui kejadian itu sengaja memalingkan mukaku kehadapannya dan juga mencium bibirku.

“Li, abis ini ikut kita ke rumah Vincent dulu ya,” Charles mulai mengajakku.
“Aduh, mau ngapain?” Kataku pura-pura tidak tahu
“Ah, aku udah ga tahan, Li,” Charles membalas lagi
“Ga tahan apanya?” Aku mencoba memancing
“udah pokoknya ikut ya nanti,” Charles berkata sambil kembali meraba susuku

Setelah film bioskop ini selesai, kami berjalan menuju motor yang sedang terparkir rapih. Tujuan berikutnya adalah menuju ke rumah Vincent, namun Anthony dan Jeffry tidak ikut karena ada janji untuk mengerjakan tugas sekolah, sehingga hanya aku, Charles dan Vincent yang Berangkat menuju rumah Vincent.

Rumahnya tidak terlalu besar, hanya ad dua kamar tidur tanpa halaman belakang. halaman belakangnya dia tutup menggunaka policarbonate, sehingga walaupun tertutup, sinar matahari tetap bisa masuk melalui belakang rumah.

Kamar depan dia gunakan untuk ruang bermainn, game console lengkap dengan TV layar lebar full HD dengan sound system yang luar biasa. Sedangkan kamar belakang adalah kamr Vincent. Vincent ternyata tinggal seorang diri di rumah ini. Orang tua Vincent bekerja di Jakarta, sehingga Vincent yang tidak mau kos, akhirnya dibelikan rumah oleh orang tuanya.

Aku merebahkan badanku di sofa yang sangat empuk di kamar tidur ini. Vincent dan Charles juga ikut duduk di kanan dan kiriku. aku sendiri sampai agak kikuk melohat mereka sesekali memandang wajahku.

“Li, kamu cantik sekali,” Vincent mulai mengeluarkan rayuannya
“Kita mau ngapain di sini?” aku mencoba mengalihkan perhatian
“Kita happy-happy gimana?” Charles malah balik beranya
“Maksudnya?” Aku berpura-pura tidak mengerti

Kayaknya mereka juga canggung untuk mengatakan hal-hal yang lebih spesifik. aku sendiri menjaga diriku agar tidak terlihat murahan di depan teman-temanku ini. Emm.. bukan teman gimana sih, kenal aja baru semingguan, itupun hanya 2 kali bertemu. Gila juga ya aku ini.

“Udah lah Li, kita sama-sama tau lah,” Kata Vincent
“Hah? Tau apa?” Lagi-lagi aku pura-pura tidak mengerti
“Tau kalo kita sama-sama suka seks,” Tiba-tiba Charles menyela

Gila juga nih anak, bisa-bisanya bilang gitu di depan cewek. ya emang sih aku sendiri mulai menyukai seks, tapi kan ga harus vulgar seperti ini. Vincent terlihat hanya cengengesan melihat Charles yang terlihat gregretan dengan sikapku yang malu-malu tapi keliatan maunya.

“Yeee… itu kan kamu yang suka seks, dasar cowo mesum,” Balasku sambil cemberut.

Ternyata sikap cemberutku ini diartikan lain oleh Charles yang kelihatan sudah tidak tahan, Charles langsung mencium bibirku, melumat habis bibirku. Kepalaku dipeganginya seakan lumatan ini tidak boleh dilepaskan. Vincent yang melihat kejadian ini langsung ikut merangsang aku dengan meremasi susuku dari samping.

Aku yang semula membiarkan Charles mencium bibirku ini mulai gelagapan, tanganku aku pakai buat mendorong tubuhnya, namun kekuatan tanganku tidak ada apa-apanya dibandingkan tenaganya. untung Charles mengerti bahwa aku sedang gelagapan sehingga dia melepaskan ciumannya.

Betapa segarnya udara yang bisa aku hirup setelah lepas dari ciuman Charles, begitu lepas, aku langsung batuk-batuk dengan sedikit megap-megap. Belum lama aku menghirup udara segar, tiba-tiba kepalaku dimiringkan oleh Vincent, rupanya dia juga ingin menciumku.

Ciuman ini begitu panas hingga aku menjerit kecil karena tangan Charles dengan tiba-tiba masuk ke dalam rokku dan menarik celana dalamku. sontak aku melotot melihat celana dalamku sudah berada dalam genggamannya, bahkan tanpa rasa jijik, Charles menghirup bau dari celaana dalamku itu.

“Omong kosong kamu ga suka Li, buktinya celana dalammu basah,” Charles berkata sambil menghirup kembali celana dalamku.

Memang aku sendiri mulai merasakan hal yang aneh. memekku mulai gatal, kejadian ini mirip saat aku bercinta dengan para pembantuku itu. Dalam ciuman yang begitu panas dengan Vincent aku mencoba mengendalikan napasku. Berbeda dengan Charles, Vincent lebih tenang menciumku, sesekali dilepaskan untuk mencium pipiku lalu kembali mengecup bibirku.

Setelah puas menciumiku, aku diangkat Vincent untuk berdiri. posisiku membelakangi Vincent, dia menciumi leherku sambil terus meremasi susuku. Charles yang melihat adegan erotis ini langsung bangkit mencium bibirku sambil tangannya membuka kemeja sekolahku ini.
Seaakan mengerti keinginan Charles, Vincent membantu membuka kancing seragamku satu per satu. akhirnya baju seragamku berhasil mereka lepaskan. kini aku hanya menggunakan bra dan rok yang tidak lama kemudian juga mereka lepaskan. Inilah pertama kali aku bugil sejak masuk SMA.

“Li, bodimu gila mulus banget,” Charles mulai memujiku. entah serius atau tidak
“Masa sih? biasa aja,” balasku sekenanya
“Iya Li, bhmu ini ukurannya berapa sih?” Vincent yang dibelakangku mengutak atik braku.
“Oh, 34B pantes montok,” Lanjut Vincent

Aku yang sudah bugil ini kembali di dudukkan kembali di sofa, entah kenapa Charles tiba-tiba keluar kamar meninggalkan aku dan Vincent. Vincent sendiri mulai nakal dengan menggosok-gosokkan tangannya ke permukaan memekku, sambil terus menciumi diriku.

Aku heran dia tidak ada puas-puasnya menciumi setiap senti wajahku. kadang di kening, di pipi, ataupun di bibir. tangannya yang satu sesekali meraba perut rataku dan susuku.

Mataku agak terbelalak saat Charles kembali masuk ke kamar ini sambil membawa dildo yang menurutku ukurannya cukup fantastis. Jujur saja aku belum pernah bermain dengan alat seperti ini. Hati kecilku memang ingin mencoba, tapi aku tetap harus jaim supaya tidak terlihat murahan di mata mereka.

“Li, kamu harus nyobain ini. pasti kamu mulet-mulet keenakan,” Charles memperlihatkan dildonya.

Sembari terus diciumi dan diraba-raba oleh Vincent, kedua kakiku di bukanya, posisi dudukku agak diturunkan sedikit sehingga Charles bisa melihat bentuk memekku ini. Setelah aku menemukan posisi yang enak, jemari Charles mulai memasuki lubang memekku ini sambil terus dikocoknya perlahan. Aku tidak bisa berkonsentrasi karena mulutku masih menjadi bahan eksplorasi Vincent.
Setelah melepaskan ciumannya, Charles memberikan dildo itu pada Vincent. Vincent sendiri dengan sigap langsung memasukkan penis mainan itu ke dalam mulutku. Dildo itu memang cukup lembut, mungkin karena bahan silikonnya. Dengan tekstur berurat dan cukup besar ini terasa memenuhi mulutku.

Irama kocokan jari Charles mulai terasa, namun karena dildo masih berada di dalam mulutku ini, aku hanya bisa merintih. rintihan ini disambut tawa oleh kedua temanku ini. Lama kelamaan, kocokan ini semakin cepat hingga aku sudah diambang orgasme, aku yang semula merintih, kini menjerit tertahan karena orgasme sudah di depan mata.

Orgasme ini memang membuat seluruh badan menjadi lemas, aku bergumam, bagaimana saat main nanti, pada saat pemanasan aja sudah selemas ini. Setelah orgasme ini mereda, Vincent bertukar posisi dengan Charles, Charles ini berada di sampingku, Vincent duduk di lantai dengan membawa dildo itu.

“Li, Sudah pernah coba dimasukin mainan gini?” Vincent mulai menjahiliku.

Aku hanya menggeleng, aku tidak mampu berkata-kata karena mulutku diciumi ganas oleh Charles, setelah melumuri dildo itu dengan pelumas sih sepertinya, sebelum secara perlahan dimasukkan dildo itu ke dalam memekku ini. Pertama kalinya memekku ini dimasuki penis mainan.

Ternyata penis mainan ini berbeda dengan penis sungguan, penis mainan itu dingin beda dengan penis asli yang hangat, mungkin dingin akibat adanya pelumas. aku sedikit kaget waktu tau ternyata penis itu bisa bergetar.

“Auh…,” Aku menjerit kecil.
“Hahaha.. baru tau ya kalo dildonya bisa getar,” Charles tertawa cekikian.

getaran dildo ini ditambah gerakan maju mundur penis mainan itu membuat aku cepat mendapatkan orgasme yang kedua. Namun, orgasme ini berbeda dengan yang pertama. Orgasme ini lebih panjang hingga badankupun ikut melengkung.
“Aaahhh,” aku mendesah merasakan kenikmatan yang berbeda.

kini, beberapa detik kemudian aku tidak kuat menahan kencing sehingga aku keluarkan langsung saja disana. cukup banyak juga air kencingku yang keluar. mengucur deras membasahi sofa dan karpet yang ada di kamar ini.

“Aduh, maaf.. jadi basah semua,” kataku sambil terengah-engah
“hahaha.. udah biasa, ntar kan bisa dicuci,” Vincent berkata padaku.

Vincent malah terlihat santai setelah aku membasahi sofa dan karpetnya. aku sendiri sudah lemas, padahal belum ada satu penispun yang masuk ke dalam memekku. baru melawan mainan aja lemesnya udah seperti ini. Vincent mengusap-usap memekku yang masih basah akibat pipisku, seakan ingin meratakan pipisku tadi ke seluruh bagian memekku.

aku yang sudah sangat lemas hanya bisa duduk bersandar melihat Vincent dan Charles membuka baju dan celananya, berikut celana dalamnya. Sambil tetap terengah-engah, aku menatap barang yang sudah tegak menggantung di bawah pusar teman-temanku itu.

“Gimana Li, besaran mana punyaku apa punya Vincent,” Kata Charles kepadaku
“Besar punyamu Les,” Jawabku sekenanya

Memang penis Charles lebih gemuk ketimbang Vincent. namun, penis Vincent lebih panjang. Seperti biasa, mereka berdua meminta aku mengulum penisnya bergantian. aku mengikuti saja apa yang mereka mau. aku masukkan penis Charles kedalam mulutku, aku maju mundurkan lalu berganti ke penis Vincent, begitu sampai beberapa kali.

Setelah puas bermain-main dengan mulutku ini, Aku diangkatnya dari sofa menuju kasur, aku diposisikan seperti orang merangkak, rupanya Charles ingin memakai posisi doggy style saat penisnya memasuki liang memekku.

Perlahan demi perlahan penis itu mulai memasuki memekku yang cukup sempit ini, aku sendiri hanya bisa mengerang antara sakit dan enak. Vincent yang dari tadi masih diam terlihat mengusapi rambutku seolah menenangkan diriku ini. Memekku terasa penuh sesak seperti dimasuki dildo tadi, untung saja dua kali orgasme dan pipis tadi membuat licin liang memekku ini sehingga tidak terlalu sakit pada saat penetrasi.

“Uhh, Gila Li.. Enak banget memekmu,” Charles meracau
“Uhh.. ahh..,” aku sendiri cuma bisa mengerang keenakan
“Cent, kamu mesti coba nih, udah ga perawan tapi tetep suempit,” Lanjutnya

Merasa aku sudah bisa beradaptasi, Charles menaikkan tempo permainannya. Vincent sendiri kini sudah berdiri di depanku dan memberikan penisnya untuk aku emut. Tanganku memegang pinggang Vincent sebelum aku mengulum penisnya. alih-alih aku mengulum penis Vincent, malahan vincent sendiri memaju mundurkan penisnya. jadilah aku dipompa depan dan belakang. Sedang enak-enaknya di pompa depan belakang, tiba-tiba pintu kamar dibuka seseorang

“Wah, gila kalian, ada cewek seksi malah dipake sendiri,” Kata cowok yang aku tidak kenal itu.
“hahaha.. ayok sini, giliran ya, sempit banget bro, ketagihan pasti,” Charles malah mengajak cowok itu menggilir aku.

Akhirnya aku mengetahui cowok itu bernama Patrick. Dia ternyata juga salah satu anggota genk excalibur dan ternyata dia juga salah satu angakatan atasku. aku bahkan tidak pernah melihat dia di sekolah.

lima menit berlalu, Charles melepaskan penisnya dari liang memekku. badanku di terlentangkan di kasur, dengan cekatan Vincent mengambil alih posisi Charles menggenjotku. Penis Vincent yang tidak terlalu tebal itu mudah masuk ke dalam memekku ini, dia langsung menggenjot dengan tempo yang cukup tinggi

Aku tidak tahu apa yang Charles dan Patrick bicarakan, namun setelah menerima bungkusan dari Charles, dia menuju ke ranjang dan menciumi bibirku. Dengan wajah yang sangat dekat dengan wajahku dia berkata “Nikmatin aja ya Li, aku ga ikutan kok kali ini, lain kali main sama aku yah, kamu pasti ketagihan.”

setelah berkata begitu aku hanya mengganggukkan kepala saja. Untunglah tidak bertambah cowok yang main denganku hari ini. melayani mereka berdua saja sudah lemas setengah mati. Setelah Patrick keluar dari kamar ini, aku lebih berkonsentrasi untuk mendapatkan orgasmeku yang kesekian kalinya. Hingga saat itu tiba aku hanya mengerang dan mengerang dengan badan yang tertekuk.

“Li, kamu hebat banget sih..” Vincent berceracau. “aku udah mau keluar nih.”

Tak lama kemudian semprotan hangat terasa dalam lubang memekku ini. Aku sendiri hanya bisa mengerang dan mengerang. Pujian demi pujian liar aku dengar dan memanaskan kupingku. aku sendiri tidak terlalu menanggapi hal itu.

Hanya sekitar lima menit aku dapat mengistirahatkan tubuhku ini. Charles yang merasa belum terpuaskan tadi langsung mendorong aku jatuh ke kasur dan mulai memasukkan penisnya. Genjotan perlahan dengan irama yang makin lama makin cepat membuat gairahku yang tadi sempat padam kini muncul kembali.

Namun apa daya, badanku ini terlalu lemas untuk menanggapi goyangan Charles, aku hanya bisa mengikuti irama goyangannya kesana kemari. setiap lima menit Charles berganti posisi kadang diatas, kadang dibawah.

Tak terasa, dengan tempo genjotan yang sangat konstan ini Charles mampu mempertahankan penisnya hamper setengah jam. pada saat itu pula aku orgasme dua kali. entah total hari ini aku sudah berapa kali orgasme, aku tidak tahu. Yang aku tahu hanyalah kepuasan demi kepuasan.

“Li, kita keluar barengan yuk,” katanya sambil mempercepat genjotannya.

Aku hanya menggangguk pasrah. tidak sampai lima menit cairan hangat kembali membasahi liang memekku ini. setelah puas menumpahkan spermanya dalam memekku, Charles bangkit membiarkan aku yang masih tergeletak di ranjang ini.

aku mencoba mengatur napas, hingga akhirnya cukup kuat untuk memakai pakaianku. namun sebelum aku memakai kembali seragamku, Vincent meminta aku untuk menunda memakai itu, Vincent ingin makan bersama denganku dan Charles di meja makan bersamaku yang hanya memakai bh dan celana dalam saja.

aku turuti kemauannya, dan kami bertigapun keluar kamar menuju ruang makan. Aku sempat berpikir kita mau makan apa, tidak ada satupun yang memasak. Ternyata Patrick membawakan kami pizza seloyang besar. kami makan dengan sangat lahap setelah permainan yang sangat melelahkan itu.

“Li, kamu luar biasa loh, staminamu hebat juga,” Vincent berceloteh.
“Iya Li, kamu ga mau aku kenalin sama seseorang?” Charles menyela.
“Hah? siapa?” Balasku penasaran.
“Ada tuh Om Joni. dia pengusaha tambang, tapi di ranjang luar biasa,” Lanjut Charles.

Gila pikirku. ini sih sama aja dengan menjual aku. Namun hati kecilku sendiri menjadi penasaran bagaimana sih main sama om-om. beberapa teman cewekku yang suka di booking om-om bialng kalau om-om itu mainnya lebih jago.

“Gimana Li? kalo ga mau juga ga apa kok. santai saja,” Charles membuyarkan lamunanku.
“Ehmm, gimana ya? aku belum pernah main sama om-om,” Balasku.
“Coba aja Li, katanya sih lebih jago-jago. Tenang aja, Charles milihnya yang bersih kok,” Sambung Vincent.

Akhirnya pertahananku kalah juga dengan rasa penasaranku. aku iya kan saja namun aku minta untuk merahasiakan kejadian ini. aku tidak mau teman-teman satu sekolah tahu akan hal ini lalu meminta jatah. mereka dengan senang hati merahasiakannya.

“Tenang aja Li, ada beberapa cewek juga kok disekolah yang sudah main sama kita dan kamu juga tidak perlu tau siapa, aku pasti merahasiakannya kok,” Vincent menegaskan.

“Iya, beberapa juga sudah aku orbitkan, ada yang jadi model, ada yang jadi simpenan om-om, ada yang masuk anggota genk motor, banyak deh,” Charles bicara panjang lebar.

Kalo jadi model hot sih enak, lah jadi simpenan om-om.. buset deh. tapi kadang hal-hal seperti itu perlu dicoba juga sih. setelah makan dan pembicaraan ini selesai, aku kembali mengenakan pakaianku dan Charles mengantarku pulang.

Sesampainya di rumah, Charles berkata nanti Om Joni akan menelepon jika mau bersenang-senang dengan aku. aku hanya mengangguk dan masuk ke dalam rumah. sesampainya di kamar, aku rebahkan badanku dan mulai terlelap.

Belum sempat pulas, ada sms masuk ke hpku, aku buka dan isinya : Hai Lily, aku Om Joni. apa kabar?

aku tidak balas karena terlalu ngantuk, hanya pikiranku melayang cepet banget ini si Charles. lalu terlelap…

Author: 

Related Posts