Cerita Sex The Bastian’s Holiday – Part 6

Cerita Sex The Bastian’s Holiday – Part 6by adminon.Cerita Sex The Bastian’s Holiday – Part 6The Bastian’s Holiday – Part 6 Introduce This Is Not a Date Melihat pancingan yang diberikan oleh Mba Icha, aku segera menghindar. Aku sadar aku berada dirumahku sendiri. Aku segera berdiri dan sedikit menjauh dari Mba Icha yang tengah asyik memainkan Payudaranya. Jujur aku memang sangat terangsang oleh apa yang ia lakukan. Tapi aku masih […]

tumblr_ns4ezkIrHj1uwaj61o4_500 tumblr_nroyd5JK4d1uycoqxo4_500

The Bastian’s Holiday – Part 6

Introduce
This Is Not a Date

Melihat pancingan yang diberikan oleh Mba Icha, aku segera menghindar. Aku sadar aku berada dirumahku sendiri. Aku segera berdiri dan sedikit menjauh dari Mba Icha yang tengah asyik memainkan Payudaranya. Jujur aku memang sangat terangsang oleh apa yang ia lakukan. Tapi aku masih bisa sadar diri. Melihat reaksiku Mba Icha malah tertawa lirih. Ia terus menahan tawanya sambil dia membenarkan lagi ceananya yang belum ia naikan sepenuhnya.

“Baaas Baaas, Baru gue pancing kaya gitu aja dah panik looo” kata dia sedikit tertawa

“Yah habis Mba Icha pake pose pose gitu segala, kalau aku emang beneran sange gimana?” tanyaku

“Emang gue kagak mikir apa bas, emang gue gila. Terus Lo pikir gue kaya gitu tadi gue ngarep ML ama lo disini. “

“Yah kagak lah, gue juga punya tata karma kali, gila aja gue ml di rumah lo sendiri, dimana harga diri gue.” Jawab dia sambil mengambil sebuah kaos warna putih dengan kerah agak rendah

“Yaah, syukur deh. Aku tadi dah panic tahu Mbaa. Wuuuuu”

“weeeeee” ia menjulurkan lidahnya

“kalau beneran terjadi emang kenapa Bas”

“Yaahh gak tahu deh mba, dah aaaah aku tunggu dibawah yaah”

“Yah udah sana lo gue mau ganti dulu.”

Untung saja tindakan mba Icha barusan hanya berusaha memancingku saja. Aku tidak tahu bila apa yang kukhawatirkan tadi benar benar terjadi. Tidak terbayang aku berhubungan intim dirumahku sendiri dan kedua orang tuaku juga ada dirumah. Untunlah, aku sejenak menghela nafas, lalu aku keluar dari Kamar tamu. Aku kembali menuju kamarku sendiri untuk mengganti pakaian dan memakai jaket Kulit warna Coklat. Setelah rapi aku segera turun kebawah. Kuambil kunci motor papah yang digantung di bupet tempat menaruh kunci. Lalu aku menuju garasi untuk memanasi motor Vespa papah yang baru. Dasar papa beli motor Vespa keluaran baru gak bilang bilang, kalau tahu kan aku minta dibelikan juga karena aku sudah ngidam dari dulu dengan motor ini.

Kunyalakan mesin motor dan kubuka garasi. Lalu kukeluarkan dan kuparkir dicarport depan. Seteahnya kuhampiri papa mama yang sedang ngeteh di teras depan. Aku duduk disamping mamah sembari menunggu Mba Icha turun. Tak lama Mba Icha turun juga, dan tak kusangka kami sama sama mengenakan Jaket kulit warna coklat. Kulihat dia sangat cantik, Dandanan minimalis dan rambut coklat keperakanya sangat serasi dengan Scraft motif leopard yang ia kenakan. Papa dan mama segera melirik kearah Mba Icha.

“Hmmmm katanya gak pacaran, pake baju aja samaaan. Hiihihihi” Ledek papa sambil membaca laporan kerjanya.

“Ahhh papa maahh masih aja niiih”

“Yah udah mah pah, aku sama Mba Icha keluar dulu yah”

“Iya silahkan, tapi pulangnya jangan malam malam yah”

“Iya maaah, lagian memang Cuma sebentar aja kok, habis aku seharian dirumah tadi bosen kepengen keluar” Jawabku.

“ Cie Ciee yang mau Nge Date..” lagi lagi papa meledek kami

“papa ini aku bukan mau Ngedate paah, udah aah, ngomong sama papah mah gak ada habisnya”

“Aku pamit, assalamualaikum”

“hahahahaha, ya .

wa alaikum sallam,

Ati ati kalian”

______________
Setelah berpamitan aku segera menuju vespa. Kuberikan Helm Bogo kepada mba Icha. Lalu segera kunaiki motor buatan Itali ini dan menyalakan mesinnya. Lalu Mba icha menyusul menaikinya.

“yayangg, Ati ati yaah, jangan ngebut ngebutt” Teriak mama menasihatiku,
“Iyaaa maahhh” jawabku berseru.

Kuputar tuas gas dan segera kulajukan motor ini. Mba Icha segera memeluk pinggangku dan semakin merapatkat tubuhnya ke pundaku. Kakinya yang panjang sedikit membuatku susah menyetir. Tapi aku diam saja dan terus kukendarai vespa ini dengan begitu hati hati. Kutelusuri setiap jalanan. Aku tak tahu mau kemana, yang penting mutar mutar saja dulu, toh nanti ketemu mau kemananya. Lalu tak lama kami menemui sebuah persimpangan, aku berhenti.

“Mbaaa, munduran dikit sih, aku susah nyetirnya nihh.” Sahutku

“Ini dah mentok kali bas gue duduknya, emang kenapa sih.’ Jawabnya

“Ini kaki kamu kepanjangan, mentok sikut aku terus, jadi pas belok nyenggol deh” jelasku

“Yaah elaah bas , kaki gue emang dari sononya kaya gini. Masa iya lu tega gue duduk ngangkang sih. Pegel kali baas”

“udah dehh nyetir ajaa ahhh, masa gitu aja gak bisaaa”

“Iya iya bisa kok, tapi munduran dikiit lagiiii”

“Hmmmm” ia hanya membalas dengan Isyarat.

Setelah beberapa menit kemudian. Kami sampai disebuah Café didaerah Jakarta Pusat. Café yang biasa aku dan teman teman gangku berkumpul. Café ini cukup nyaman karena design interiornya yang cukup menarik artistic namun tetap exclusive. Setelah memarkirkan motor, kami berdua langsung masuk dan mencari meja yang kosong. Untung saja meja yang biasanya aku gunakan masih kosong. Akhirnya kami duduk disana. Beberapa pelayan disini ada yang sudah mengenalku. Ya karena memang aku sangat sering nongkrong disini. Kamipun memesan minuman. Kami sama sama memesan kopi dan juga beberapa cemilan dan kue. Setelah memesan,, mba Icha langsung mengeluarkan bungkus rokok dari dalam tas jinjingnya dan segera membakar sebatang. Pasti yang mba Icha rasakan sama denganku.

“Ahhh akhirnya bisa ngerokok juga, dari tadi gue kepengen ngrokok gak enak sama bokap nyokaplu.”

“yah sama aku juga” kataku sambil mengeluarkan bungkus rokokku dari dalam jaket. Lalu aku membakar juga sebatang rokok dan segera menghisapnya.

“Lah emang lo belum diizinin ngerokok” Tanya mba Icha sambil mengepulkan asap dari bibirnya.

“Yah papa mama aja belum tahu kalau aku sekarang ngerokok, gimana diizinin tadi aja aku ngerokok pas mama keluar nganterin Mba Melanie.”

“hahaha kasihan lo bas”

Lalu aku dan Mba Icha sama sama melepas jaket kulit yang kami kenakan. Setelah ia melepas jaket, dapat kulihat banyak sekali mata lelaki disekitar yang tertuju padanya. Pasti karena warna rambutnya yang begitu mencolok membuat dia sangat mudah menjadi pusat perhatian. Kulihat juga ada seseorang laki laki yang tengah berduaan dengan pacarnya, mencoba mencuri curi pandang untuk melihat sosok Mba Icha ini. Atau para lelaki itu merasa… Lagi lagi pikiran negatifku mengatakan kalau mata mata yang memandang itu karena heran melihat wanita secantik Mba Icha duduk berdua denganku. Sial

“Eh bas Bokaplu rese yaah orangnya”

“Yahh, gitulah Mba, papa emang gitu orangnya dari dulu, suka ceplas ceplos kesemua orang. Tapi aslinya dia baik kok”

“kalau itu sih gue tahu, bokaplu kelihatanya emang baik banget. Tadi siang aja tuh pas Hunting dia ngajarin gue udah kaya anaknya sendiri coba. Cara dia bicara, cara dia becanda sebenernya ngingetin gue sama bokap gue dulu waktu sebelum cere sama nyokap” lanjut Mba Icha sedikit bercerita tentang masa lalunya

“Beruntung yah kamu masih puanya ayah dan ibu gak kaya aku” tiba tiba logat elu guenya menghilang

“Oh, ooowwh..” kataku.
“Halah jadi ngomongin itu. Dah ahh. Eh bas tau gak bokaplu ngasih kamera Nikon analognya dong ke gue”

“haah yang bener, kok bisa”

‘ya bisa dong, tadi siang pas ditempat hunting dia inget masih nyimpen kamera lamanya,katanya dari pada mubazir Cuma disipen aja, akhirnya dikasih ke gue” kata Mba Icha dengan nada bicara centil.

“Ahhhh curang nih papa, sama anaknya aja gak dikasih tahu kalau dulu punya hobi poto, eh sama Mba Icha malah dikasih kamera, ahh curang ahhhh” kataku sedikit manyun

“udahhh ahhh gak usah ngambek, kan elu mau dihadiahin Kamera baru, gue dah bilang kok ke bokaplu seri Nikon terbaru. Kayaknya lu bakal dibeliin itu. Kalau elu dah megang kamera kan bisa gue pinjeem . hehehe” kata Mba Icha panjang.

Tidak lama pelayan datang menghantarkan pesanan kami. Lalu kami segera menyruput kopi hitam itu dengan nikmatnya. Sembari menikmati kopi dan mendengarkan live musik yang kebetulan hari ini sedang perform kami mengobrol semakin menjurus kearah yang agak serius. Mba Icha sesekali bertanya tentang masa laluku. Masa masa SMA, ceritaku bersama keluarga. Ia mendengarkan semua ceritaku. Begitu pula dengan Mba Icha ia juga akhirnya menceritakan sedikit masa kelam keluarganya dulu. Baru kali ini Mba Icha cerita mengenai masa kecilnya. Selama ini dia memang tidak pernah menceritakannya. Hanya orang tertentu saja ia membagi cerita pahit dalam hidupnya. Sejenak suasana menjadi sedikit sunyi.

“Dah ahh, pengen nangis gue kalau cerita masa lalu gue” ngobrol yang lain aja lah” kata mba Icha.
“Ehh, bas kemarin tuh yah pas gue belanja sama nyokaplu, dia cerita kalau emang dari dulu gak pernah pacaran yah” Tanya dia.
“ Bukannya gak pernah Mba, tapi emang dari dulu aku gak diboehin pacaran sama Mama, ya alasanya sih bagus”
“Aduuhh yayaang masa remaja kamu suram sekali yah”
‘Hmmm Yayaang”

“ehh mba jangan ikut ikutan mama dong manggil pake sebutan itu, malu aku” sahutku sedikit kesal
“iya gaak”
“Yayaaaang”

“ahhhh, Mba Maaaaah”

“Eh ngomong ngomong cewek Idaman lo kayak gimana sih sebenernya, walaupuun lo belum pernah pacaran sekalipun pasti adalah Cew yang elu impi impikan.” Tanya Mba Icha lagi.

“Cewe Idaman aku, kayaknya gak ada deh Mba, memang dari dulu sih aku gak pernah kepikiran sama cew” jawabku
“Masa sih gak ada,boong ahhh” Mba Icha memastian

“Beneran, tapi kalau sekarang sih wanita di benak aku yah yang sepeti tante Ocha”

“Hmmmm dasar lo, Pecinta Milf” Ledek Mba Icha

“yeee ngeledek, dari pada Mba Icha pecinta Wanita” balasku sambil menjulurkan lidah kearahnya

“Weeeee’ Disusul tawa kami berdua yang menyeruak menyamai suara dentuman musik akustik dari dalam café.

“eh ngomong ngomong, tante Ocha kabarnya gimana yah, gue lupa dari kemarin belum ngabarin dia. Lo dah ngabarin dia Bas?” Tanya Mba Icha

“Tadi siang sih udah Mba, tapi yah gitu agak susah ditelpon. Pas giliran diangkat katanya dia lagi dirumah temennya, terus ditutup. Katanya mau nelpon lagi tapi sampe sekarang gak nelpon nelpon”

“Ohh yah, bentar cob ague telpon sekarang deh” Sahut mba Icha sambil mengeluarkan Hpnya dan menghubungi no tante Ocha.

Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif , atau berada…..

“Kaga aktif bass”
“Hmmmm Curiga gue”

“alaah, Curiga apaan sih Mba, kali aja Tante emang udah tidur”

“yah gak gitu Bas, tante tuh gak pernah loh kaya gini, baru sekarang aja..”

“Lahh perasaan Mba aja itu mah”

“tapi nih yah, Misal, missal, ternyata tante ocha selama ini dibelakang kita dia diem diem punya pasangan Baru gimana hayo?”

Sejenak aku diam untuk berfikir

“Tuhh kan diem kan loo, khawatir juga kan lo”

“iya sih Mba, aku memang sempet sih mikir kaya gitu” Sahutku.

“tapi kalau memang bener tante punya pasangan baru diluar kita, perasaan lo gimana, lo sakit hati nggak? Tanya mba icha cukup membuat hatiku tersentak.

“Yah gak tahu Mba, kan aku belum pernah ngerasain sakit hati, kalau mba sendiri gimana?” kataku balik bertanya

“Oh iya yeee lo kan Jomblo Ngenes dari dulu”

“Kalau gue sih, dah pasti siap akan semua kemungkinan yang terjadi. Bahkan nih yah bas sebelum ada lo, hamper setiap malam tante kedatangan tamu, ya rata rata brondong sih kaya lo. Salah satunya ya dulu si Anji brondong kesayangannya dia dulu. “
“Nah sekarang lo coba ngebayangin perasaan gue. Lu tahu kan sejak gue berhubungan sama Tante Ocha, gue udah nganggep dia sebagai ibu sendiri bahkan sebagai kekasih, karena gue emang sayang dan cinta sama dia. Tapi ngelihat setiap malem dia dientot sama cowo berbeda yah gue sakit bas. Tapi mau gimana lagi. Hubungan gue sama Tante kan gak akan pernah menjadi hubungan Permanen?”
“Bener sih kata kata Mba, yah aku juga gak mungkin selamanya ngarep tante Ocha, sedangkan dia sebenarnya adalah teman baik mama. Jelas tidak ada masa depan dengannya. Tapi memang aku sudah teranjur sayang sih mba sama tante”

“yah udah lah bas, apapun yang terjadi yah terjadilah, kita kan gak bisa ngerubah nasih dan nentuin takdir. Yah semuanya ya jalanin saja, entah akhirnya menyakitkan itu ya resiko”

Obrolan panjang lebar tentang Tante Ocha membuat kami sejenak terdiam. Kami hanya duduk membisu. Kami sadar kami tidak bisa menentukan takdir diri. Tetapi nasib masih bisa kita ubah. Kami memang dua orang yang special didalam hati Tante Ocha. Tapi masa depan dan kebahagian tante Ocha hanya dia seoranglah yang menentukan. Karena itu semua adalah garis tuhan.

“Kok dari tadi Obrolan kita obrolan serius mulu yah Bas.”
“iya yaah, dipikir pikir niatnya nongkrong biar fresh eh malah ngebahas kaya gini, malah nambah pikiran aja yah mba”
Hahahaha,
Kami sama sama tertawa.

“Eh bas, gue baru inget. Besok lo gak kemana mana kan. Temenin gue yuk’ pinta Mba Icha

“Kemana Mba ? “ tanyaku sambil menyeruput kopi

“Ke kantornya Semprot Magazine. Tadi siang pas gue hunting, salah satu temen gue nawarin ke gue. Katanya di Semprot Magazine lagi butuh Photograper lepas, kata temen gue gajinya lumayan, gak mengikat lagi” Jelasnya

“semprot magazine, aku belum pernah denger mba?”Tanyaku

“Gue juga baru denger bas tadi siang. Katanya sih majalah pria dewasa, tapi gue sih bodo amat abis kayaknya menarik dan menantang”

“nih gue ada contoh majalahnya bentar” Kata Mba Icha sambil mengambil iPad dari tasnya.

“Naah majalahnya kaya gini nih bass” Kata mba Icha sambil memperlihatkan contoh majalah Semprot

“Woow, ini sih bukan majalah dewasa biasa mba”seruku

“Kayaknya sih gitu” kata mba icha sambil menarik lagi iPadnya.

“Ehhh bentar mba, tadi Hot issunya apaan..” Kataku mengambil kembali iPad dari tangan mba Icha

“Robert Tantula segera membuka tempat Prostitusi terbesar se Asia tenggara”

“Kenapa memang beritanya” Tanya Mba Icha

“Bukan beritanya, ini kemaren waktu aku nemenin tante Elin aku ketemu nih mba sama Orang ini, Orangnya tajir banget mba. Bayangin aja nyewa roon President Suit dua hari Cuma buat ngadain pesta sex doing, gimana gak tajir tuh”

“ohh yah, mana lihat penasaran gue beritanyaa apaan”

“Gila ternyata expansi bisnis bang Robert udah kearah Prostitusi juga, ck ck ck. Gila tuh orang” gumamku.

“Waah, kayak gini mah pasti mainan sama mafia juga nih, gila aja bikin tempat kayak gitu gak keendus pemerintah”

“Yah namanya juga orang kaya Mba, apa yang mereka mau tinggal ngebalikin telapak tangan”

“Bas Balik yuuuk, dah mau jam Sembilan nih, gak enak sama nyokaplo pulang malam malam, terus kayaknya dah mau mendung juga”

“Ya udah Ayoook pulang Mba”

“ehhh tapi bentar dulu Mba, kayaknya itu si Melly deh” kataku sambil melihat kursi di sudut sana.
“Melly siapa lagi” Tanya Mba Icha bingung

“Melly anaknya tetanggaku, itu loh yang ngajakin aku jogging tadi sore”

“Terus kenapaa” Tanya dia lagi
“Sebentar yah Mba.” Jawabku.

______________

Lalu aku segera berdiri dan meninggalkan Mba Icha. Lalu aku melangkah menuju meja yang yang terdapat dua pasangan abg itu. Lalu dengan tiba tiba aku muncul dihadapan Melly, sedikit ku mengagetkanya.

“hayoooo melly, lagi pacaraan yaahhh” Seruku membuatnya sedikit terkejut akan kehadiranku

“Halo kalian lagi” sapaku pada teman teman Melly

“halo juga kakak yang tadi sore kalah lari dari kita, hihi” kata seorang perempuan teman Melly

“Huus ngeledek kamu yah”

“Loooh kok kak … kaak Bastian disini”jawab dia terihat kaget

“Kakak dari tadi disini, kamu udah Ijin mama belum nongkrong disini”

“Udah kaaakk” Jawabnya ragu

“Izinnya paan sama mamah” tanyaku lagi sedikit memancing

“Ehhhh, kerja kelompok kaaak” Jawab dia

“Ohhhhhhh”

“Tapi kakak jangan bilang mamah Melly nongkrong disini yah” Pinta dia dengan muka memelas.

“iya enggak kok tenang aja, tapi kamu jangan kemalaman loh pulangnya, diluar kayaknya dah mulai
mendung”

“Iya kaak, ini juga sebentar lagi kita pulang kok” jawab Melly

“Hei Kamu, nama kamu siapa?” tanyaku pada cowo yang duduk disamping melly

“Bobby bang” Jawab dia agak sedikit segan

“Nah Bobby, kamu nanti anterin pulang Melly yah, jangan terlalu malam, nanti mamanya melly nyariin looh” Perintahku.

“Iii Iyaa Bang siaap, Habis ini juga langsung nganterin Melly pulang kok Bang” Jawab dia lagi.
“Bob kesini sebentar deh ada yang mau aku omongin sama kamu”

“Mau ngomongin apa bang” Ia sedikit takut denganku.

Akupun mengajak Bobby menjauh dari Melly dan kawan kawannya. Lalu kutanya Bobby dengan pertanyaan yang begitu membuatnya terkejut. Aku bilang padanya bahwa Melly sangat suka padanya. Ia pun heran. Ternyata alasan si Bobby selama ini tidak menembak Melly karena dia masih takut ditolak. Akhirnya kuberikan saja beberapa nasihat pada bocah ini. Si Bobby terlihat langsung bersemangat. Yes aku berhasil mengobarkan semangat cinta seorang bocah ingusan. Tetapi memang lucu, aku sendiri belum pernah sekalipun nembak cewe tapi sudah sok soak ngasih semangat orang buat nembak cewe. Haha. Aku tertawa dalam hati. Lalu aku anter kembali Bobby menuju mejanya.

“Yah udah Kakak pulang duluan yah Mel, inget jangan kemaleman loh”

“Iya Kak Bastiaan jeleek”.

“Byyee semuanyaa, have fuun yaah”

“Iyaa kaak” Semuanya membalas.

Akhirnya kutinggal Melly bersama gebetan dan teman temannya itu lalu kuhampiri lagi Mba Icha di meja semula. Ternyata dia sudah membayar semua billnya. Asik malam ini Ditraktir Mba Icha. Jadi uangku aman, hahaha. Lalu kamu bergegas menuju parkiran dan segera kulajukan motor Vespa papa menuju rumah.

Selama perjalanan pulang menuju rumah, Mba Icha terus memeluk pinggangku. Ia memeluknya sangat erat. Tetapi aku tahu, dia pasti kesusahan ketika memeluku dari belakang karena postur dia jauh lebih tinggi. Kulihat langit sudah mulai mendung, angin sudah terasa begitu dingin, langitpun sudah terlihat kilatan cahaya. Yah Wajar ini masih bulan Februari, hujan bisa datang secara tiba tiba. Akhirnya aku mempercepat laju vespa papa, aku tidak ingin terjebak hujam mala mini. Mba Icha semakin kencang memeluk pinggangku dan kedua kakinya semakin erat menggapit tubuhku. Akhirnya setelah perjalanan yang cukup padat, kita sampai juga di rumah. Mba Icha segera turun dan aku membuka Garasi dan memasukan motor papah didalamnya. Untung belum Hujan.

Kami berdua masuk kedalam rumah, dan aku mengunci pintu depan. Ternyata didalam mama dan papa masih asyik menonton Tv diruang keluarga. Sebentar kami mengucap salam kepada mereka berdua. Sedikit obrolan kami lakukan bersama Mama dan Papa. Lalu setelah memastikan aku sudah pulang mereka duluan pamit kedalam kamar. Mereka akan istirahat karena besok sudah hari senin dan seperti biasa mama dan papa selalu berangkat pagi buta dihari Senin. Aku sempat meminta Izin mama untuk menggunakan mobilnya besok untuk mengantar Mba Icha. Akhirnya mama menyetujui, besok amam akan berangkat sama papa.

Setelah itu aku dan Mba Icha juga menuju kamar masing masing. Mba Icha menuju Kamar tamu dan aku jelas menuju kamarku sendiri. Didalam kamar aku segera mengganti pakaianku dengan pakaian santai untuk tidur. Sejenak aku kekamar mandi untuk sikat gigi dan membersihkan diri. Lalu kubaringkan tubuh ini keatas kasur empuku dan kunyalakan televise untuk menyaksikan tayangan Film yang disiarkan oleh Channel Fox Crime. Namun lama lama mata ini tak kuat menahan kantuk, padahal sekarang masih jam setengah sebelas. Akhrnya aku memutuskan untuk tidur saja untuk mengisi tenaga dari kegitan hari ini yang cukup melelahkan.

______________

Sekitar pukul satu dini hari hujanpunn turun. Suhu udara sontak berubah menjadi dingin. Lalu aku dikagetkan oleh suara petir yang menggelegar. Sial aku terbangun sekitar pukul setengah tiga dini hari. Karena itu aku jadi tidak bisa melanjutkan tidur. Aku menjadi terjaga dan bingung hendak melakukan apa agar bisa tertidur lagi. Akhirnya kunyalakan saja Laptopku dan mainkan game kegemaranku saat ini GTA IV. Kunyalakan volume game yang paling maksimal. Aku tidak khawatir membangunkan seisi rumah atau para tetangga. Karena selain suara hujan yang menggelegar diluar, kamarku ini juga dilapisi kedap suara pada dinding dindingnya. Dulu waktu SMA papa menyadari kebiasaanku bermain game telah menggangu tidurnya. Para tetangga juga beberapa kali complain kepada papa. Akhirnya papa memutuskan membuat kamarku menjadi kedap suara. Ia menyuruh tukang pembuat studio untuk melapisi seisi tembok kamarku dengan lapisan kedap udara. Akhirnya saat ini kamarku sudah kedap oleh Suara. Alaupun tidak secangging di Studio musik atau rekaman. Setidaknya bila aku memainkan game tengah malam, suara dari game yang kumainkan sudah tidak terdengar lagi dari kamar papa mama yang terletak dilantai bawah sisi kiri bangunan rumah, sedang kamarku sendiri berada dilantai dua sisi kakan bangunan. Selain itu tetanggapun sudah tidak pernah ada yang complain. Mereka malah terkadang heran” Kok tumben si Bastian gak pernah berisik lagi kalau tengah malam”. Tidak tahu sajahampir setiap malam aku bermain game dengan volume yyang sangat keras.

Seperti biasa ketika aku memainkan game favoritku aku segera lupa apa yang terjadi diluar, bahkan pernah saking asyiknya main game aku sampai tidak dengar mama memanggil. Kesal dengan itu mama pernah menyetop uang jajanku selama 2 minggu. Ketika aku tengah menjalani misi,kudengar suara ketukan pintu ditengah suara baku tembak didalam game GTA IV

Tok Tok Tok

“Baass, Baaaas….”
“Siapaa yaaah?”…….

Author: 

Related Posts