Cerita Sex My Boss!!! – Part 17

Cerita Sex My Boss!!! – Part 17by adminon.Cerita Sex My Boss!!! – Part 17My Boss!!! – Part 17 MY BOSS PART 4 Dia menggeleng. Sial. Rendra.. panggilku, sedikit kurendahkan suaraku, berharap dia akan luluh. Biasanya lelaki yang kukenal langsung mematuhiku kalau aku sudah bersuara seperti itu dengan mimik wajah memohon. Tapi dia malah menarikku ke kamarnya kemudian menguncinya. MENGUNCI?????? Hei! Buka pintunya! aku mulai emosi. Dia menggeleng lagi. […]

tumblr_nkpc9rYrMn1up9txto1_540 tumblr_nkqtcpWzP51up9txto1_540 tumblr_nkqtcxjgZK1up9txto1_540My Boss!!! – Part 17

MY BOSS PART 4

Dia menggeleng. Sial. Rendra.. panggilku, sedikit kurendahkan suaraku, berharap dia akan luluh. Biasanya lelaki yang kukenal langsung mematuhiku kalau aku sudah bersuara seperti itu dengan mimik wajah memohon. Tapi dia malah menarikku ke kamarnya kemudian menguncinya. MENGUNCI??????

Hei! Buka pintunya! aku mulai emosi. Dia menggeleng lagi. Kemudian menyeringai kembali.

Kau tidur di sini! Mau menurut atau dia menghentikan kalimatnya, menatapku dengan tatapan menggoda, mengangkat sebelah alisnya dan melangkahkan kakinya mendekat padaku. refleks aku mundur.

Baiklah. Aku tidur di sini. Sahutku mengalah. Berjalan ke tempat tidur dan menarik selimut hingga sampai di pinggangku. Berusaha mengabaikan lelaki bertelanjang dada yang tadi sempat menggodaku. Huh. Ternyata Cuma segitu. Tak lama kemudian tempat tidur sedikit bergerak. Aku yakin dia mengikutiku. Masa bodoh dengan tidur satu ranjang. Lagipula aku tak akan membiarkannya melakukan hal yang macam-macam.

Aku berusaha memejamkan mataku, menghadirkan kantuk agar besok bisa kembali bekerja seperti biasa. Dan berpikir tentang apa yang akan aku lakukan esok hari. Mengingat tak ada lagi tempat untuk menginap. Hah. Aku tak mungkin tidur di tempat Ami. Dia tinggal bersama pacarnya. Mana mungkin aku menganggu mereka. Dan uangku sudah tinggal sedikit. Ini benar-benar posisi yang sulit.

Punggungmu seksi ya? Hmm.kalau polos pasti lebih seksi. Sebuah suara sedikit mengagetkanku. Dia berusaha merayuku. Aku tahu. Jangan harap aku tergoda. Aku memilih untuk tetap mendiamkannya. Membuatnya berpikir bahwa aku sudah terbang ke alam mimpi. Bra mu merah ya? Lelaki brengsek dia menyadari kaos putihku yang sedikit transparan. Aku menarik selimut hingga sampai leherku.

Bahkan.. ketika seluruh badanmu tertutupi selimut tebal seperti ini, aku masih tetap bergairah. Lanjutnya. Apa maksudnya bicara seperti itu.

Rambutmu lembut. Ujarnya. Dia pasti sedang memainkan rambut panjangku. Aku merasakannya. Kuabaikan kelakuannya dan berusaha pura-pura tertidur.

Tak lama kemudian sebuah lengan besar memeluk pinggangku di bawah selimut yang kupakai, badannya merapat padaku, menggesekan dada telanjangnya ke punggungku yang berbalut kaos. Aku tidak tergoda.. Aku tidak tergoda kulapalkan mantra itu agar bisa segera tertidur dan pura pura tak tahu yang dia lakukan. Tangannya menelusuri lenganku, menggenggam jemari tanganku dan menghembuskan nafasnya di leherku. Membuatku sedikit merinding dan menahan napas. Apa-apan dia itu! sesuatu di belahan pantatku kurasakan bergerak. Membesar, memanjang dan mengeras. Dia bernafsu! Jujur saja, aku ehm sedikit menikmatinya.

Ba.. bagaimana ini? Apa sebaiknya aku bergerak dan mencegahnya berbuat lebih jauh? Tapi pelukannya benar-benar hangat, dan senjata miliknya itu juga hangat. Uh. Ini benar-benar di luar kendaliku. Ah, ini tidak bisa dibiarkan. Reaksi tubuh dan otakku benar-benar tidak sinkron. Dan aku tidak bisa menahan nafas lebih lama. Aku benar-benar ingin mendesah. Sialaaan. Aku memutuskan membuka mata dan mengabaikan nafsuku yang hampir menguasai seluruh tubuh dan otakku. Kubuka mataku dan kusingkirkan tangannya yang sedari tadi mengelus perutku, memangnya aku sedang hamil anak dia? Bodoh!

Hentikan kelakuanmu itu! aku sedikit berteriak dan sedikit mengeluarkan nafas yang keras, agar tidak mendesah. Bangun dari posisi saling merapat itu, dan mencoba duduk.

Oh. Ayolah, aku benar-benar tidak akan berbuat lebih dari itu. Dia menatapku datar tanpa ekspresi. Bisa-bisanya.

Kau bilang begitu, tapi sesuatu di celanamu tak bisa berbohong!

Dia tersenyum mesum. Kau suka? Bagaimana rasanya?

Brengsek. Kau! Sudahlah. Sebaiknya kau pergi. Kalau untuk menyalurkan nafsumu lakukan saja pada selirmu atau pacar lelakimu itu. aku berusaha berbaring lagi dan memunggunginya dengan menggeser badanku agar menjauh darinya.

Pacar?

Ya. Lelaki yang ke kantormu itu bukannya pacarmu! Lalu wanita-wanitamu itu yang selalu membuatmu telanjang! aku sedikit membalikkan badanku ke arahnya dan melihat bibirnya berkedut.

What? Jadi kau benar-benar berpikir aku suka dua jenis? dia terbahak dengan cukup keras.

Nona, sudah berapa kali kubilang aku ini NORMAL. Lelaki itu saudaraku. Dan waktu itu murni kecelakaan. Kami terjatuh dan kau masuk tepat saat kami terjatuh. Dia duduk mengusap kepalanya. Lalu kembali melihatku. Membuatku terpesona padanya. Dia benar-benar lelaki seksi.

Kau masih tak percaya padaku atau kau cemburu? dia bertanya sekali lagi padaku. Sebenarnya aku juga tak yakin lelaki jantan seperti ini memiliki kelainan sih. Haha. Mungkin waktu itu aku memang benar-benar salah paham. Dan apa yang dia lakukan sekarang? Kenapa tiba-tiba posisinya berada di atasku. Dan apa dia bilang? Cemburu?

Kau..kau..menyingkir dari situ! Suaraku bergetar. Aku benar-benar gugup. Dia lelaki seksi. Dan sangat menggoda. Aku tak yakin bisa bertahan lama dengan prinsipku saat berhadapan dengan pria ini.

Boleh aku menciummu? dia berbisik, nadanya menggoda.

Tidak! Kau. Sudah. Berjanji. Atau aku akan berhenti bekerja. Sekarang menyingkir dari atasku!! Aku berusaha mendorongnya dengan tenaga yang kupunya. Namun dia tak bergeming.

Sheila saayang… Harusnya kau tahu, tak ada yang gratis di dunia ini. Rendra menyeringai. Nada bicaranya mencemooh. Apa katanya?

Jadi kau tak ikhlas membantuku? Huh. Aku menyesal mengikutimu ke sini. Aku mengerucutkan bibirku tanda tak suka.

Hei, baiklah baiklah. Sebulan, 90 kali seks bagaimana? dia setengah berbisik, wajahnya sekitar lima senti denganku.

APA???? Apa yang kau bicarakan! Kau bos brengsek! akhirnya aku berhasil menyingkirkannya dari posisi itu. Kuubah posisiku menjadi duduk kembali. Sekaligus ingin mengklarifikasi ucapan tak senonohnya barusan. Dia benar-benar penjahat.

Aku mengijinkanmu tinggal di sini selama sebulan, jadi kita bercinta 3 kali sehari di sini. Bagaimana? Bukankah itu menguntungkan kita berdua? Kau tahu? Simbiosis mutalisme. Win-win solution. Sebelum kau mendapat tempat tinggal baru. Dia menawariku perjanjian itu seolah menawarkan permen pada anak umur 5 tahun agar dia berhenti menangis. Huh. Lucu sekali.

Kau pikir aku mau menggunakan tubuhku untuk itu! Kau bercanda! Dengar ya Bosku yang terhormat. Aku tidak mau tidur denganmu. Apapun alasannya. Dan 90 kali sebulan? 3 kali sehari? Kau bercanda! aku mendengus. Hm sepertinya dia kuat di ranjang. Hehe. Ah tidak tidak. Aku tidak tergoda..aku tidak tergodaa. Kulapalkan kembali mantra itu.

Hm. Kau yakin? ucapnya. Ini seperti kuis tebak-tebakan saja. Memangnya kalau aku jawab yakin dia akan memberiku uang satu milyar. Bodoh sekali.

Aku yakin! jawabku.

Hm. Baiklah. Bagaimana kalau seminggu 14 kali bercinta? tunggu. dia menurunkan penawarannya. Sekali lagi aku menggeleng.

Oke. tujuh kali bercinta, satu minggu? aku tetap menggeleng. Dia sedikit cemberut.

Sekali seminggu?

Sekali bercinta, sebulan tinggal! entah setan apa yang masuk ke dalam tubuhku hingga aku melontarkan kalimat nista itu. Aku baru saja mengungkapkan penawaran yang benar-benar menggelikan seumur hidupku. Mulutnya terbuka, lalu tersenyum. Aku kalah. Menyebalkan.

Oke. Sekali sebulan. Deal. Nada suaranya puas. Tidak. Tidak. Aku benar-benar bodoh. Menyetujui hal ini tanpa pikir dulu. Tapi dia bilang hanya sekali kan? Dan aku bisa tinggal sebulan di sini. Sepertinya itu juga bukan hal yang merugikan. Lagipula. Sex dengannya tidak akan buruk sepertinya. Dan jujur saja. Nafsuku naik saat dia menciumku tadi. Sekarang aku masih bergairah. Ah, bagian bawahku berdenyut lagi. Tapi sekali lagi ini melanggar prinsipku. Hiks. Oke baiklah. Hanya sekali. Ingat Sheila. Hanya sekali. Ini demi kelangsungan hidupmu. Aku meliriknya, dia tersenyum, matanya sayu. Oh tidak. Sepertinya kali ini aku benar-benar tak bisa menolak.

Dia menindihku kembali dengan cepat, melanjutkan apa yang tadi sempat tertunda. Kejantanannya terasa sangat keras di antara pahaku. Aku tersentak lalu kembali dikagetkan dengan lumatan bibirnya di bibirku. Aku berusaha meronta, namun dia menahan tanganku dan malah menggesekkan kejantanannya ke bagian bawahku yang terlapis hot pants dan celana dalam tentu saja. Sial. Ini nikmat.

Aku mengerang. Mendapati tangannya menggerayangiku. Mencium keningku lama, kemudian bibirnya turun mengecup kedua mataku, pipiku dan mencium bibirku kembali. Aku merasakan dia mengangkat kaosku ke atas, wajahnya terangkat, aku melihat gairah di matanya yang menggelap, kubiarkan dia menatap payudaraku yang terbungkus bra berwarna merah. Bra yang membuat payudaraku tertarik ke atas seperti mau tumpah. dada dan perutku naik turun, mengatur nafas yang sudah kacau karena aksinya, membuat payudaraku ikut bergerak. Dia mendesis, Kau Seksi. Ujarnya lalu meremas payudaraku dan mengangkat bra yang kupakai ke atas, sehingga bagian kecokelatannya muncul seolah menantang, dia menyeringai, tatapan mesumnya kurasakan di sekujur tubuhku. Membuat nafasku semakin terengah. Aku berbaring pasrah di bawah tubuhnya. Sambil menggesekkan kepunyaannya terhadapku dia meremas kedua payudaraku, menekan tengahnya yang mengeras dengan kedua jempolnya di masing-masing payudaraku, membuatku menggeliat resah merasakan payudara dan kewanitaanku dipermainkan.

Kedua tangannya menekan-nekan payudaraku, mengabaikan bagian cokelatnya dan kemudian mengarahkan bagian itu ke mulutnya, mengulumnya seolah mengunyah, aku menggeliat kembali, sambil mengelus punggungnya dan meremas rambutnya. Dia melepas hontpantsku, dan celana dalamku.

Aku terpengaruh. Seakan melayang dengan perbuatannya. Aku membalasnya, membiarkan tanganku menggerayangi bosku hingga menyusup ke dalam boxernya sampai di bolanya, menyentuhnya dan menggenggam bagian panjangnya, dia mengangkat bokongnya membiarkan aku leluasa memainkan benda itu.

Sialan, ini nikmat nikmat nikmathhhh dia meracau dan membuka seluruh pakaianku. Membuatku telanjang dengan cepat, dan membiarkannya membuka boxernya sendiri, melepas penghalang yang sedari tadi mengganggu tubuh kami untuk bersatu. Dia kembali memainkan payudaraku, membuat banyak tanda merah di sana, lalu sesekali menyeringai. Tangannya yang lain memainkan kewanitaanku, membuatku semakin terengah, mendesah penuh gairah.

Rendra.. aku.. aku.. Aku tak tahan lagi, sejak pertemuan pertama itu aku sudah menginginkannya.

Aku tahu sayang.. aku tahu.. dia menciumi wajahku dan blesshh. Dia memasukannya ke dalam. Tiga kali hentakan sebelum kami benar-benar menyatu. Dia terdiam sesaat.

Kau suka? Punyaku enak kan? katanya.

Ti. Tidak juga? aku tak mengaku.

Dia mengangkat sebelah alisnya. Benarkah? dia masih terdiam di posisinya. Ini buruk.

Kau bodoh ya? Cepat gerakkaaaann!!!! lagi-lagi aku mengatakan hal yang seharusnya tak kukatakan. Memperlihatkan kalau aku sudah menyerah. Terjerat dengan pesonanya.

Dia terkekeh. Kemudian menusukku dengan pelan, lalu cepat. Kau benar-benarhhh dia mendesah membuathhh mendesah sambil menusuk. .nafsuku semakin naik dengan segala tingkahmu sayanghhhh dia mempercepat tusukannya berkali-kali. Mati aku mati aku matiiiiiii.

Kau..bodohhhh..! ujarku sambil mengerang. Dia terdiam setelah aku berkata begitu, kembali menghentikan aksinya. Ah apa aku mengatakan sesuatu yang salah? Kenapa dia berhenti? Dia menarik nafasnya dan memejamkan matanya.

Ah, maaf maksudku..aaakhhh!! aku memekik. Rendra menusukku lagi dengan semakin cepat, lebih cepat dari tadi..sial! serangan tak terduga. Kau.. aku benhhchhhi kauhhhhhh! dia menyebalkan. Dan aku menyukainya. Ini gila! Aku bisa gila dengannya!

Kami melakukannya, tusukan demi tusukan kami lalui dengan penuh gairah. Ah aku belum menamakan tusukannya itu. bagaimana kalau tusukan surga bukankah itu bagus? Yeah. Ini benar-benar surga dunia. Aku benar-benar menikmati permainannya. Sampai akhir. Sampai puncak kenikmatan kami tereguk. Bersama-sama tenggelam dalam pusaran orgasme terhebat yang pernah kujalani.

SATU JAM KEMUDIAN

Itu film Spiderman. Sahutku setelah mendengar suara tv yang tadi tidak dimatikan setelah kejadian penguncian kamar.

Bagaimana kau tahu?

Aku hapal dialognya. Sudah sering kutonton. Ucapku sambil tetap bergoyang, memutarnya teratur.

Huh..aku tak suka si bodoh itu. dia pengecut. Mengejar wanita begitu saja harus jadi digigit laba-laba dulu. Rendra mendengus kemudian meremas pantatku dan menekannya sehingga punya kami benar-benar menempel.

Itu romantis! Aku suka adegan mereka berciuman di jaring laba-laba. Aku menaik turunkan pinggangku dengan cepat, membenamkan kembali miliknya sampai tak ada yang tersisa.

Yah. Harusnya mereka bercinta di sana. Sepertinya bagus making love di jaring-jaring. Apalagi wanita itu sering tidak memakai bra. Dia menahan pantatku, meresapi kenikmatan yang kami buat bersama.

Kau! Aku tidak tahu kau memperhatikan hal seperti itu! benar-benar mesum! cibirku.

Tentu saja. Wanita itu cukup menggairahkan karena tidak pakai bra! Hah.. kalau aku jadi lelaki laba-laba itu aku pasti tak akan melewatkannya. Membuat banyak jaring dan bercinta dengan banyak wanita di sana. Pasti menyenangkan. Rendra mengelus punggungku dan pantatku, menyentaknya dan membuat posisi kami berbalik. Lalu memompaku dengan semangat. Sepertinya pembicaraan tentang Spiderman benar-benar membuatnya semakin bernafsu. Tapi kemudian dia kembali mengatur gerakannya. Aku gagal.

Hei. Kapan kau keluar? tanyaku kesal. Kesal-kesal nikmat karena dia tak juga orgasme. Padahal aku sudah benar-benar tidak tahan.

Setelah kau menyerah. Ahh. Kita harus mencobanya di kantor sayang. Aku belum pernah seks di kantor.

Tidak! David Narendra Wijaya! Kau janji hanya sekali! Setelah ini tak ada lagi seks! Ingat itu! jawabku sambil mengencangkan kaitan kakiku di pinggangnya.

Hm. Ya. Tapi bukankah sangat menyenangkan melihatmu memakai pakaian kerja, rok seksi, kau menunduk dan memperlihatkan belahan payudaramu, menggodaku di kantor.. lalu kita.. ahh.. sayang.. remasanmu hebat..punyaku tersedot owh owh… apa kau menyerah?

Pipiku memanas. Aku ketahuan. Ti.. tidaak!

OH.. ayolah aku tahu kau sudah akan keluar.. dia tertawa mengejek. Menusukkan setengah miliknya mempermainkanku dan menusuk sempurna di tusukan ke lima. Aku benci dia!

Aku.. aku.. ini buruk. Aku sudah benar-benar di ujung.

Kau.. tidak.. aku tidakk oh! Aku menyerah oh tidak aku menyerah aku menyerah Renakhhh! sepertinya dia merasakan hal yang sama denganku. Tusukannya semakin cepat dan nikmat. Dan aku membalasnya dengan remasan yang sangat kuat, berdenyut hebat. Tak lama kemudian kami tumbang. Bermandikan keringat dan cairan kenikmatan yang keluar dari tubuh kami. Senjatanya menyusut alami. Membiarkan dia tetap di dalam kemudian melepasnya dan berbaring di sebelahku. Aku benar-benar terbuai dengan permainannya. Dia lelaki kedua yang membuatku merasakan kenikmatan, kepuasan dan kebahagiaan secara bersamaan.

Beberapa saat kemudian, buliran bening menetes di ujung mataku perlahan tanpa kusadari. Kenangan itu muncul kembali, hal yang selama ini berusaha kulupakan. Sesuatu yang ingin kuingat dan kulupakan secara bersamaan muncul dua-duanya. Aku ingin mengingat hal itu, tapi kenangan pahit yang lainnya datang menghantuiku, membuatku bahagia sekaligus sakit di waktu yang sama.

Kau? Kenapa? Apa aku menyakitimu? Rendra menatap cemas, menghapus air mataku dan membelai wajahku. Aku menggeleng.

Tidak. Aku hanya.. aku..aku..kau benar-benar aku hanya.. bahagia.. suaraku tercekat. Tak mampu lagi mengatakan hal lain yang masih tersangkut di tenggorokanku. Aku memeluknya. Menangis kemudian terlelap dan menenggelamkan wajahku di dadanya. Dia mengelus punggungku. Kami tertidur bersama.

Bersambung

Author: 

Related Posts